Jumat, 07 Januari 2011

Fungi

Fungi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Klasifikasi ilmiah
Domain: Eukarya
(tidak termasuk) Opisthokonta

Kerajaan: Fungi

Subkingdoms/Phyla/Subphyla:
Blastocladiomycota
Chytridiomycota
Glomeromycota
Microsporidia
Neocallimastigomycota
Deuteromycota
Ascomycota
Pezizomycotina
Saccharomycotina
Taphrinomycotina
Basidiomycota
Agaricomycotina
Pucciniomycotina
Ustilaginomycotina

Subphyla:
Incertae sedis
Entomophthoromycotina
Kickxellomycotina
Mucoromycotina
Zoopagomycotina

Penjelasan
Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Fungi memiliki bermacam-macam bentuk. Awam mengenal sebagian besar anggota Fungi sebagai jamur, kapang, khamir, atau ragi, meskipun seringkali yang dimaksud adalah penampilan luar yang tampak, bukan spesiesnya sendiri. Kesulitan dalam mengenal fungi sedikit banyak disebabkan adanya pergiliran keturunan yang memiliki penampilan yang sama sekali berbeda (ingat metamorfosis pada serangga atau katak). Fungi memperbanyak diri secara seksual dan aseksual. Perbanyakan seksual dengan cara :dua hifa dari jamur berbeda melebur lalu membentuk zigot lalu zigot tumbuh menjadi tubuh buah, sedangkan perbanyakan aseksual dengan cara membentuk spora, bertunas atau fragmentasi hifa. Jamur memiliki kotak spora yang disebut sporangium. Di dalam sporangium terdapat spora. Contoh jamur yang membentuk spora adalah Rhizopus. Contoh jamur yang membentuk tunas adalah Saccharomyces. Hifa jamur dapat terpurus dan setiap fragmen dapat tumbuh menjadi tubuh buah. Ilmu yang mempelajari fungi disebut mikologi (dari akar kata Yunani μυκες, "lendir", dan λογοσ, "pengetahuan", "lambang").

Posisi fungi dalam taksonomi
Fungi dulu dikelompokkan sebagai tumbuhan. Dalam perkembangannya, fungi dipisahkan dari tumbuhan karena banyak hal yang berbeda. Fungi bukan autotrof seperti tumbuhan melainkan heterotrof sehingga lebih dekat ke hewan. Usaha menyatukan fungi dengan hewan pada golongan yang sama juga gagal karena fungi mencerna makanannya di luar tubuh (eksternal), tidak seperti hewan yang mencerna secara internal. Selain itu, sel-sel fungi berdinding sel yang tersusun dari kitin, tidak seperti sel hewan.

Cara hidup
Fungi hidup menyerap zat organik dari lingkunganya. Berdasarkan cara memperoleh makannya, fungi mempunyai sifat sebagai berikut:
• Saprofit
• Parasit
• Mutual
dan lain - lain

Habitat
Fungi hidup pada lingkungan yang beragam namun sebagian besar jamur hidup di tempat yang lembab. Habitat fungi berada di darat (terestrial) dan di tempat lembab. Meskipun demikian banyak pula fungi yang hidup pada organisme atau sisa-sisa organisme di laut atau di air tawar. Jamur juga dapat hidup di lingkungan yang asam.

Reproduksi
Fungi melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan kuncup atau tunas pada jamur uniselule serta pemutusan benang hifa (fragmentasi miselium) dan pembentukan spora aseksual (spora vegetatif) pada fungi multiseluler. Reproduksi jamur secara seksual dilakukan oleh spora seksual. Spora seksual dihasilkan secara singami. Singgami terdiri dari dua tahap, yaitu tahap plasmogami dan tahap kariogami.

Klasifikasi
Fungi diklasifikasikan menjadi 6 klasifilasi:
• Zygomycota
• Ascomycota
• Basidiomycota
• Deuteromycota
• Mikoriza
• Lumut Kerak

Referensi
1. Moore RT. (1980). "Taxonomic proposals for the classification of marine yeasts and other yeast-like fungi including the smuts". Botanica Marine 23: 361–73.
2. The classification system presented here is based on the 2007 phylogenetic study by Hibbett et al.

http://id.wikipedia.org/wiki/Fungi

Jumat, 03 Desember 2010


Alga
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Alga (jamak Algae) adalah sekelompok organisme autotrof yang tidak memiliki organ dengan perbedaan fungsi yang nyata. Alga bahkan dapat dianggap tidak memiliki "organ" seperti yang dimiliki tumbuhan (akar, batang, daun, dan sebagainya). Karena itu, alga pernah digolongkan pula sebagai tumbuhan bertalus.

Istilah ganggang pernah dipakai bagi alga, namun sekarang tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan kekacauan arti dengan sejumlah tumbuhan yang hidup di air lainnya, seperti Hydrilla.

Dalam taksonomi yang banyak didukung para pakar biologi, alga tidak lagi dimasukkan dalam satu kelompok divisi atau kelas tersendiri, namun dipisah-pisahkan sesuai dengan fakta-fakta yang bermunculan saat ini. Dengan demikian alga bukanlah satu kelompok takson tersendiri.

Kelompok-kelompok alga

Dalam pustaka-pustaka lama, alga selalu gagal diusahakan masuk dalam satu kelompok, baik yang bersel satu maupun yang bersel banyak. Salah satu contohnya adalah pemisahan alga bersel satu (misalnya Euglena ke dalam Protozoa) dari alga bersel banyak (ke dalam Thallophyta). Belakangan disadari sepenuhnya bahwa pengelompokan sebagai satu klad tidak memungkinkan bagi semua alga, bahkan setelah dipisahkan berdasarkan organisasi selnya, karena sebagian alga bersel satu lebih dekat berkerabat dengan alga bersel banyak tertentu.

Saat ini, alga hijau dimasukkan ke dalam kelompok (klad) yang lebih berdekatan dengan semua tumbuhan fotosintetik (membentuk klad Viridiplantae). Alga merah merupakan kelompok tersendiri (Rhodophycophyta atau Rhodophyceae); demikian juga alga pirang (Phaeophycophyta atau Phaeophyceae) dan alga keemasan (Chrysophyceae).

Alga prokariotik

Alga biru-hijau kini dimasukkan sebagai bakteri sehingga dinamakan Cyanobacteria ("bakteri biru-hijau", dulu disebut Cyanophyceae, "alga biru-hijau") Dengan demikian, sebutan "alga" menjadi tidak valid. Cyanobacteria memiliki struktur sel prokariotik seperti halnya bakteri, namun mampu melakukan fotosintesis langsung karena memiliki klorofil. Sebelumnya, alga ini bersama bakteri masuk ke dalam kerajaan Monera. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya diketahui bahwa ia lebih banyak memiliki karakteristik bakteri sehingga dimasukkan ke dalam kelompok bakteri benar (Eubacteria). Sebagai tambahan, beberapa kelompok organisme yang sebelumnya dimasukkan sebagai bakteri, sekarang malah dipisahkan menjadi kerajaan tersendiri, Archaea.

Alga eukariotik

Diagram yang menggambarkan teori mengenai evolusi alga (dan tumbuhan) masa kini yang banyak didukung.

Jenis-jenis alga lainnya memiliki struktur sel eukariotik dan mampu berfotosintesis, entah dengan klorofil maupun dengan pigmen-pigmen lain yang membantu dalam asimilasi energi.

Dalam taksonomi paling modern, alga-alga eukariotik meliputi filum/divisio berikut ini. Perlu disadari bahwa pengelompokan semua alga eukariotik sebagai Protista dianggap tidak valid lagi karena sebagian alga (misalnya alga hijau dan alga merah) lebih dekat kekerabatannya dengan tumbuhan daripada eukariota bersel satu lainnya.

* Archaeplastida : Regnum Viridiplantae atau Plantae (tumbuhan):
o Filum Chlorophyta (alga hijau)
o Filum Charophyta (alga hijau berkarang)
* Archaeplastida : Regnum incertae sedis
o Filum Rhodophyta (alga merah)
* Archaeplastida : Regnum incertae sedis
o Filum Glaucophyta

* Superregnum Cabozoa: Regnum Rhizaria:
o Filum Cercozoa
+ Kelas Chlorarachnia
* Superregnum Cabozoa: Regnum Excavata:
o Filum Euglenozoa

* Regnum Chromalveolata: Superfilum Chromista
o Filum Heterokontophyta (atau Heterokonta)
+ Kelas Bacillariophyceae (Diatomae)
+ Kelas Axodina
+ Kelas Bolidomonas
+ Kelas Eustigmatophyceae
+ Kelas Phaeophyceae (alga coklat)
+ Kelas Chrysophyceae (alga keemasan)
+ Kelas Raphidophyceae
+ Kelas Synurophyceae
+ Kelas Xanthophyceae (alga pirang)
o Filum Cryptophyta
o Filum Haptophyta
* Regnum Chromalveolata: Superfilum Alveolata
o Filum Dinophyta (atau Dinoflagellata)

Kamis, 14 Oktober 2010

Streptococcus pneumoniae

Streptococcus pneumoniae



Streptococcus pneumoniae, or pneumococcus, is gram-positive, alpha-hemolytic, bile-soluble aerotolerant anaerobe and a member of the genus Streptococcus. A significant human pathogenic bacterium, S. pneumoniae was recognized as a major cause of pneumonia in the late 19th century and is the subject of many humoral immunity studies.

Despite the name, the organism causes many types of pneumococcal infection other than pneumonia, including acute sinusitis, otitis media, meningitis, bacteremia, sepsis, osteomyelitis, septic arthritis, endocarditis, peritonitis, pericarditis, cellulitis, and brain abscess.

S. pneumoniae is the most common cause of bacterial meningitis in adults, children, and dogs, and is one of the top-two isolates found in ear infection, otitis media. Pneumococcal pneumonia is more common in the very young and the very old.

S. pneumoniae can be differentiated from Streptococcus Viridans, some of which are also alpha-hemolytic, using an optochin test, as S. pneumoniae is optochin-sensitive. S. pneumoniae can also be distinguished based on its sensitivity to lysis by bile. The encapsulated, gram-positive coccoid bacteria have a distinctive morphology on gram stain, the so-called, "lancet-shaped" diplococci. It has a polysaccharide capsule that acts as a virulence factor for the organism; more than 90 different serotypes are known, and these types differ in virulence, prevalence, and extent of drug resistance.

History

In 1881, the organism, discovered by Leo Escolar, then known as the pneumococcus for its role as an etiologic agent of pneumonia, was first isolated simultaneously and independently by the U.S Army physician George Sternberg and the French chemist Louis Pasteur.

The organism was termed Diplococcus pneumoniae from 1926 because of its characteristic appearance in Gram-stained sputum. It was renamed Streptococcus pneumoniae in 1974 because of its growth in chains in liquid media.

S. pneumoniae played a central role in demonstrating that genetic material consists of DNA. In 1928, Frederick Griffith demonstrated transformation of life, turning harmless pneumococcus into a lethal form by co-inoculating the live pneumococci into a mouse along with heat-killed, virulent pneumococci. In 1944, Oswald Avery, Colin MacLeod, and Maclyn McCarty demonstrated that the transforming factor in Griffith's experiment was DNA, not protein as was widely believed at the time. Avery's work marked the birth of the molecular era of genetics.

Genetics

The genome of S. pneumoniae is a closed, circular DNA structure that contains between 2 million and 2.1 million basepairs, depending on the strain. It has a core set of 1553 essential genes, plus 154 genes in its virulome, which contribute to virulence, and 176 genes that maintain a non-invasive phenotype. There is up to 10% genetic variation between strains. S. pneumoniae is part of the normal upper respiratory tract flora, but, as with many natural flora, it can become pathogenic under the right conditions (e.g., if the immune system of the host is suppressed). Invasins such as Pneumolysin, an anti-phagocytic capsule, various adhesins and immunogenic cell wall components are all major virulence factors.

Interaction with Haemophilus influenzae

Both H. influenzae and S. pneumoniae can be found in the human upper respiratory system. A study of competition in a laboratory revealed that, in a petrì dish, S. pneumoniae always overpowered H. influenzae by attacking it with hydrogen peroxide. When both bacteria are placed together into a nasal cavity, within 2 weeks, only H. influenzae survives. When both are placed separately into a nasal cavity, each one survives. Upon examining the upper respiratory tissue from mice exposed to both bacteria, an extraordinarily large number of neutrophil immune cells were found. In mice exposed to only one bacterium, the cells were not present.

Lab tests show that neutrophils that were exposed to already-dead H. influenzae were more aggressive in attacking S. pneumoniae than unexposed neutrophils. Exposure to killed H. influenzae had no effect on live H. influenzae.

Two scenarios may be responsible for this response:

1. When H. influenzae is attacked by S. pneumoniae, it signals the immune system to attack the S. pneumoniae
2. The combination of the two species together sets off an immune system alarm that is not set off by either species individually.

It is unclear why H. influenzae is not affected by the immune system response.

Senin, 28 Juni 2010

A Special Holiday

Hello, guys! Jumpa lagi.
Oh ya, skrg kan udah musim liburan sekolah. Biasanya saat" seperti ini tuh
Merupakan saat" yang tepat untuk berlibur sama keluarga, teman, ato bahkan.. Ehem, ehem.. Sama pacar! Hehehhe :p

Besok adalah hari liburan paling spesial buat gue. Biasanya kan gue liburan cuma ke mal, bandung, ato makan sama keluarga di resto. Tapi kira" apa ya yang membuat liburan gue ini menjadi sangat spesial?

Yup, right! Besok gue bakal ke Bali. *senang :)
Jujur aja ya, besok merupakan hari pertama gue ke bali (wkwkwk :D). Oh ya, gue juga belom pernah naik pesawat terbang sebelumnya. Yah... Mungkin agak sedikit norak nantinya. Hehehe :p

Untuk oleh"nya , gue tampung dulu ya. Oke ? :D
Have a nice Holiday guys! GBu :)

Jumat, 11 Juni 2010

Holiday @ Puncak

Hello, udah lama rasanya gw ga buka blog gw. Skrg ini gw lagi ada puncak. Gw lgi liburan bareng keluarga. Yah... Biasa lah. Kalo udah bosen di rumah, pasti tenpat pelariannya kalo ga puncak , bandung. Hahaha. Kalo ke puncak, gw pengennya sih ke Tama Safari. Tapi kali ini nyokap gw lagi pengen ngunjungi Melrimba Garden yang ada di jalan Raya Puncak. Katanya sih.. modelnya mirip" kaya Gunung Mas gitu, jadi ntar kita teawalk. Tapi gw males kalo udah ngunjungin tempat" kaya gitu. Males.. padahal lagi pengen ke taman safari eh, malah pergi ke Melrimba. Gw pengen liat Kangaroo!!!!!

Holiday @ Puncak

Hello, udah lama rasanya gw ga buka blog gw. Skrg ini gw lagi ada puncak. Gw lgi liburan bareng keluarga. Yah... Biasa lah. Kalo udah bosen di rumah, pasti tenpat pelariannya kalo ga puncak , bandung. Hahaha. Kalo ke puncak, gw pengennya sih ke Tama Safari. Tapi kali ini nyokap gw lagi pengen ngunjungi Melrimba Garden yang ada di jalan Raya Puncak. Katanya sih.. modelnya mirip" kaya Gunung Mas gitu, jadi ntar kita teawalk. Tapi gw males kalo udah ngunjungin tempat" kaya gitu. Males.. padahal lagi pengen ke taman safari eh, malah pergi ke Melrimba. Gw pengen liat Kangaroo!!!!!

Holiday @ Puncak

Hello, udah lama rasanya gw ga buka blog gw. Skrg ini gw lagi ada puncak. Gw lgi liburan bareng keluarga. Yah... Biasa lah. Kalo udah bosen di rumah, pasti tenpat pelariannya kalo ga puncak , bandung. Hahaha. Kalo ke puncak, gw pengennya sih ke Tama Safari. Tapi kali ini nyokap gw lagi pengen ngunjungi Melrimba Garden yang ada di jalan Raya Puncak. Katanya sih.. modelnya mirip" kaya Gunung Mas gitu, jadi ntar kita teawalk. Tapi gw males kalo udah ngunjungin tempat" kaya gitu. Males.. padahal lagi pengen ke taman safari eh, malah pergi ke Melrimba. Gw pengen liat Kangaroo!!!!!